Pukul 15.00 WIB, aku terbangun dari tidur siang dan meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal. Tidak ada firasat apa pun. Seperti kebiasaan pada umumnya, aku membuka WhatsApp untuk memeriksa pesan yang mungkin masuk selama aku beristirahat.
Namun, yang muncul di layar justru ruang percakapan yang kosong.
Tidak ada satu pun riwayat chat yang dapat dibaca. Percakapan, file dokumen, serta foto-foto yang sebelumnya tersimpan, tidak lagi dapat ditemukan.
Aku sempat mengira ini hanya gangguan sementara. Aku menunggu beberapa saat, berharap semua percakapan akan kembali muncul. Namun, harapan itu perlahan memudar ketika layar tetap menunjukkan hal yang sama.
Peristiwa itu tidak hanya berarti hilangnya data digital, tetapi juga hilangnya rekam jejak dari banyak hal yang pernah menjadi bagian dari keseharian. Dokumen penting yang pernah dikirim, foto-foto yang menyimpan momen tertentu, hingga percakapan sederhana yang tanpa disadari memiliki nilai emosional, semuanya lenyap tanpa peringatan.
Aku terdiam menatap layar ponsel itu.
Selama ini, WhatsApp bukan sekadar aplikasi pesan. Ia telah menjadi ruang penyimpanan bagi berbagai bentuk komunikasi, baik yang bersifat formal maupun personal. Banyak bagian kehidupan yang secara tidak langsung tersimpan di sana, menjadi arsip dari waktu ke waktu.
Kehilangan itu datang tanpa suara, namun meninggalkan perasaan yang nyata. Sore itu, pukul 15.00 WIB, aku tidak hanya membuka sebuah aplikasi, tetapi juga menyadari bahwa sebagian jejak kehidupanku di ruang digital telah hilang.

Nggakpapa, bikin jejak lagi.
BalasHapus