Langsung ke konten utama

Percakapan yang Tidak Pernah Sempat Kuucapkan Selamat Tinggal

 


Pukul 15.00 WIB, aku terbangun dari tidur siang dan meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal. Tidak ada firasat apa pun. Seperti kebiasaan pada umumnya, aku membuka WhatsApp untuk memeriksa pesan yang mungkin masuk selama aku beristirahat.

Namun, yang muncul di layar justru ruang percakapan yang kosong.

Tidak ada satu pun riwayat chat yang dapat dibaca. Percakapan, file dokumen, serta foto-foto yang sebelumnya tersimpan, tidak lagi dapat ditemukan. 

Aku sempat mengira ini hanya gangguan sementara. Aku menunggu beberapa saat, berharap semua percakapan akan kembali muncul. Namun, harapan itu perlahan memudar ketika layar tetap menunjukkan hal yang sama.

Peristiwa itu tidak hanya berarti hilangnya data digital, tetapi juga hilangnya rekam jejak dari banyak hal yang pernah menjadi bagian dari keseharian. Dokumen penting yang pernah dikirim, foto-foto yang menyimpan momen tertentu, hingga percakapan sederhana yang tanpa disadari memiliki nilai emosional, semuanya lenyap tanpa peringatan.

Aku terdiam menatap layar ponsel itu.

Selama ini, WhatsApp bukan sekadar aplikasi pesan. Ia telah menjadi ruang penyimpanan bagi berbagai bentuk komunikasi, baik yang bersifat formal maupun personal. Banyak bagian kehidupan yang secara tidak langsung tersimpan di sana, menjadi arsip dari waktu ke waktu.

Kehilangan itu datang tanpa suara, namun meninggalkan perasaan yang nyata. Sore itu, pukul 15.00 WIB, aku tidak hanya membuka sebuah aplikasi, tetapi juga menyadari bahwa sebagian jejak kehidupanku di ruang digital telah hilang.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...